PUSTAKA DJAMBATAN

Jln. Prapanca Raya No.16 B, Tlp. 021 – 723 4143 pustakadjambatan@gmail.com

50 Tahun Penerbit Djambatan: Nasionalisme Sebuah Jembatan Ilmu

KOMPAS, Kamis, 19-02-2004.

TAK mudah bagi sebuah penerbitan untuk bertahan lama. Terlebih jika penekanan usahanya bukan pada komersialisme belaka, tetapi untuk pengembangan budaya dan intelektualitas.
Penerbit Djambatan telah membuktikan itu. Berbagai guncangan dialami. Pernah tersiar berita Djambatan akan menghentikan aktivitasnya karena diduga sudah bangkrut. Terbitannya pun pernah dibajak besar-besaran karena buku-bukunya laris di pasaran. Akan tetapi, itu semua tidak membuat Djambatan tersingkir.
Dalam perjalanannya menembus waktu 50 tahun, Djambatan tentu saja mengalami pasang surut. Pada usia 11 tahun Djambatan sudah menghadapi guncangan besar. Ketika itu inflasi mencapai 600 persen. Akibatnya, dalam kurun 10 tahun (1964-1973), Djambatan hanya mampu menerbitkan 167 judul, yang sebelumnya mencapai 400 judul.
Kemudian, tahun 1998, datang badai kedua, yakni ketika nilai rupiah terpuruk dan nilai dollar AS sampai Rp 17.000. Masa-masa sulit itu memaksa Djambatan menghentikan produksi selama delapan bulan dan hanya mengandalkan penjualan buku-buku yang tersisa. Dalam tahun 1998 itu Djambatan hanya menerbitkan 12 judul buku.
***
BERBEDA dengan kebanyakan penerbit lain, Djambatan sangat selektif memilih karangan yang akan diterbitkan. Djambatan lebih banyak menerbitkan buku-buku teks, terutama untuk perguruan tinggi. Itu pun mengutamakan karangan pakar atau ahli dari Indonesia, bukan terjemahan. Dari keseluruhan terbitannya, hanya sekitar 10 persen buku terjemahan.
“Kami lebih bersifat nasionalis. Sangat banyak orang Indonesia yang ahli di bidangnya, dan yang telah kami terbitkan hasilnya tidak mengecewakan. Mereka itu yang ingin kami beri ruang,” tutur Direktur PT Penerbit Djambatan Sjafrudin. Ia ditemui di kantornya, sebuah bangunan tahun 1960-an di Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan. “Penerbit Djambatan adalah labour of love,” ujarnya.
Menurut Sjafrudin, penerbit buku dihadapkan pada dua kenyataan: digerakkan oleh kepentingan yang kekal atau hanya tentatif. Jika bergerak dalam kepentingan yang kekal, penerbitan buku haruslah mengutamakan suatu transfer of knowledge beserta transfer of values, yang diarahkan pada pembangunan humanisme.
Namun, kata Sjarifudin, apabila hanya berpijak pada kebutuhan tentatif, penerbitan buku dengan sejumlah tema- taruhlan seperti sosial dan politik sehubungan dengan suasana kehidupan politik yang akhir-akhir ini sedang digemari masyarakat-sudah dipastikan didorong oleh motif mencari untung. Sembari, tentu saja, memanfaatkan eforia yang menjadi kecenderungan pasar.
***
HINGGA kini Djambatan masih memegang teguh filosofi yang diwariskan para pendirinya: tidak semata-mata mencari keuntungan, tetapi lebih bersifat kultural dan intelektual. Itu dapat dilihat dari buku-buku terbitan Djambatan yang memperoleh penghargaan berdasarkan kriteria.
Novel Ziarah karangan Iwan Simatupang, misalnya, memenangi Hadiah Sastra ASEAN 1972 di Bangkok, Thailand. Kemudian roman Burung-burung Manyar karangan YB Mangunwijaya mendapat South East Asia Write Award 1983, juga di Bangkok.
Dari Yayasan Buku Utama, empat judul buku terbitan Djambatan memperoleh penghargaan Buku Terbaik, yakni Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan oleh Otto Soemarwoto (1983), HB Jassin Paus Sastra Indonesia oleh Pamusuk Eneste (1987), Batik dan Mitra oleh Nian S Djoemena (1992), dan Lurik: Garis-garis Bertuah oleh Nian S Djoemena (2002).
***
CIKAL bakal kelahiran PT Penerbit Djambatan adalah dua lembaga yang terpisah jarak ribuan mil: De Brug-Djambatan di Amsterdam dan Perkumpulan Waringin di Jakarta.
De Brug-Djambatan adalah organ dari sebuah perkumpulan di Belanda, Vereniging Nederland-Indonesia (VN-I), yang juga beranggotakan orang Indonesia. De Brug-Djambatan yang didirikan pada 14 Juni 1949 dipimpin oleh wartawan Belanda, Hendrik Mattheus Van Randwijk (1909-1966), yang dikenal pro-Indonesia.
Dalam edisi 26 Juli 1947 majalah “bawah tanah” Vrij Nederland yang ia terbitkan sejak tahun 1941, Van Randwijk mengutuk agresi Belanda. Oleh pihak Belanda aksi ini disebut sebagai “aksi polisi”, tetapi Van Randwijk justru menyebutnya sebagai perang murni.
Terkait dengan keberadaan De Brug-Djambatan di Amsterdam, Djamaludin Adinegoro (wartawan) bersama Kasoema Soetan Pamoentjak (pensiunan pegawai negeri) dan Intojo (pegawai Kabinet Presiden RI) mendirikan Perkumpulan Waringin di Jakarta. Pendirian Waringin dimaksudkan untuk memberi jalan bagi pengarang Indonesia menerbitkan karyanya di penerbit De Brug-Djambatan Amsterdam.
Pada perkembangan kemudian, kelima orang tersebut, ditambah Prof Ir Soetomo Wongsotjitro (guru besar Fakultas Teknik Bandung) dan Dr (Med) Achmad Ramali St Lembang Alam (dokter pada RSUP), bersepakat membentuk sebuah perseroan terbatas dengan nama NV Penerbit Djambatan-Djakarta.
Ketujuh pendiri itu masing-masing menjadi pemegang saham secara perseorangan. Namun, hanya tiga orang yang tetap menjadi pemegang saham perusahaan tersebut, yakni Adinegoro, Pamoentjak, dan Ramali. Sejak tahun 1956 saham atas nama dua warga Belanda dibeli oleh ketiga pemegang saham tetap itu.
Perkumpulan Waringin dibubarkan tidak lama setelah NV Penerbit Djambatan-Djakarta didirikan karena aktivitasnya dirasa tidak perlu lagi. Sementara De Brug-Djambatan bergabung dengan Falk-plan di Jerman.
Hari ini jembatan ilmu itu telah berusia 50 tahun. “Penerbit Djambatan sudah berancang-ancang untuk kembali meraih prestasi terbaik,” ujar Sjafrudin.
Selamat berkarya dan tebarkan ilmu..

Iklan

Information

This entry was posted on April 9, 2012 by in Artikel.

Navigasi

%d blogger menyukai ini: